Baduy Malas Didatangi Pelancong

Baduy Malas Didatangi Pelancong

Baduy Malas Didatangi Pelancong –  Warga Suku Baduy melontarkan surat terbuka untuk Presiden Joko Widodo menghapuskan teritori tradisi Baduy.

Sebagai tujuan rekreasi dan menukarnya sebagai cagar budaya. Keputusan itu dicetuskan oleh Instansi Tradisi Baduy dalam tatap muka di Dusun Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Argumen Kenapa Warga Baduy Sekarang Malas Didatangi Pelancong Kembali

Dalam surat terbuka itu berisi permintaan supaya pemerintahan bisa menolong meniadakan citra satelit yang ada di mesin penelusuran google atau jadi restricted tempat. Ada banyak argumen kenapa pada akhirnya Suku Baduy minta beberapa keinginan itu.

Baca Juga: Tempat Rekreasi Menyeramkan Batam

Berikut kumparan kumpulkan lima argumen Suku Baduy sekarang malas didatangi pelancong:

Baduy Malas Didatangi Pelancong  Kuatnya Arus Modernisasi yang Dibawa Pelancong

Suku Baduy menyaksikan jika rintangan menantang kuatnya arus modernisasi yang dibawa beberapa pelancong dipandang berasa makin berat untuk beberapa figur tradisi, dalam memberikan ketentuan tradisi yang berjalan. Ini pada akhirnya membuat beberapa tetua tradisi cemas akan robohnya aturan nilai tradisi pada angkatan selanjutnya.

Banyak Pedagang dari Luar Baduy yang Banyak yang datang

Mulai jumlahnya pedagang yang masuk di Baduy jadi argumen warga ingin supaya daerah mereka masih tertutup. Sekarang ini, banyak pedagang di luar Baduy banyak yang datang ke, sejumlah besar jual produk minuman dan makanan paket plastik, hingga datangkan masalah baru.

Tercemarnya Lingkungan Baduy Karena Tingkah Pelancong

Tidak cuman beberapa pedagang, begitu jumlahnya pelancong yang tiba ke Baduy juga membuat beberapa dari mereka tidak menghiraukan dan jaga kelestarian alam. Banyak sampah plastik yang pada akhirnya dibuang asal-asalan hingga mencemarkan lingkungan Suku Baduy.

Perihal ini pula yang pada akhirnya membuat beberapa aturan dan tuntutan tradisi mulai tergerus dan terkikis oleh persinggungan itu.

Banyak Pelancong Ambil Photo Suku Baduy Secara Sembunyi-sembunyi

Pelancong yang semakin banyak bertandang ke daerah Baduy membuat bermacam tempat yang berada di sana juga pada akhirnya terekspose. Walau sebenarnya, banyak tempat di seputar daerah Baduy yang disucikan.

Karena itu, warga Baduy minta supaya beberapa foto di daerah Baduy yang disucikan bisa dihapus dan dijaga supaya tidak menyebar.

Terganggunya Ketenangan Baduy Malas Didatangi Pelancong

Masifnya pemanfaatan daerah Baduy yang ditebarluaskan di sosial media pada akhirnya membuat warga Suku Baduy mulai terganggu. Ditambah, teritori tradisi Baduy Dalam larang keras masuknya modernisasi dan rekat dengan kesederhanaan.

Bahkan juga beberapa orang dapat dengan gampang cari info mengenai Baduy di internet,” ungkapkan Jaro Saidi, salah satunya Penopang Tradisi di Baduy, Banten.

Urutan Surat Terbuka yang Dikirimkan Warga Tradisi Baduy untuk Presiden Jokowi

Ketidak nyamanan pada modernisasi yang dibawa oleh pelancong membuat warga Baduy memilih untuk mengirimi surat terbuka ke Presiden Joko Widodo. Surat terbuka itu minta ke pemerintahan untuk meniadakan daerah tradisi sebagai tujuan rekreasi.

Disamping itu, instansi tradisi minta tunjangan pemerintah supaya meniadakan citra satelit yang ada di mesin penelusuran Google atau jadi restricted tempat. Mereka ingin beberapa foto yang diambil di teritori Baduy Dalam secara sembunyi-sembunyi, dihapus dan dijaga supaya tidak menyebar bebas.

Heru Nugroho sebagai ketua team, akui benar-benar semangat dan siap jadi narahubung inspirasi warga Baduy ke Presiden Joko Widodo. Adanya surat terbuka itu, Heru mengharap pemerintahan bisa dengarkan inspirasi warga tradisi Baduy supaya mereka masih jalani aturan budaya dengan damai.

Berikut urutan surat terbuka yang dikirimkan instansi tradisi Baduy:

Di inspirasi dari periode PSSB COVID-19

Heru Nugroho, sebagai ketua team surat terbuka yang disodorkan masyrakat tradisi Baduy menerangkan jika keputusan untuk meniadakan teritori Baduy jadi tujuan rekreasi diambil karena di inspirasi dari Limitasi Sosial Bertaraf Besar (PSBB).

Pada 16 April 2020 lalu, teritori rekreasi ditutup untuk mendesak angka penebaran virus corona. Sepanjang teritori itu mengamankan diri dari pelancong, warga akui berasa tenang dengan situasi itu.

Saat itu, Jaro Alim, salah satunya tetua tradisi suku Baduy minta bantuan ke Heru untuk menemukan jalan keluar untuk pecahkan masalah yayng ada. Saat itu keputusan untuk bikin surat terbuka ke Presiden disetujui.

Waktu itu kami setuju, sebagus-nya Baduy dihapus dari peta rekreasi nasional. Maka amanat itu aku bisa lewat cara lisan, dilihat Puun Cikeusik dan Jaro Saidi,”

Pria yang telah 15 tahun sering bertandang dan dikenali baik oleh warga tradisi Baduy itu menjelaskan jika kekhawatiran akan dampak modernisasi jadi salah satunya argumen tetua tradisi hentikan rutinitas pariwisata masuk di Baduy. Kegundahan yang dirasakan warga tradisi Baduy pada dampak modernisasi itu yang membuat mereka memilih untuk tutup akses daerah Baduy sebagai tempat rekreasi.

Lebih kurang sampai 5 tahun lalu, pertanyaan itu tetap dijawab dengan rasa optimis, jika mereka bisa tahan. Walau aku menyaksikan ada suara cemas, tetapi itu opini aku,” tutur Heru.

Tanda-tangan beberapa figur tradisi dalam surat terbuka

Pada Sabtu (4/7), beberapa Instansi Tradisi lakukan diskusi di Dusun Kanekes, Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Banten, Sabtu (4/7) untuk mengulas surat terbuka yang diperuntukkan ke Presiden Joko Widodo.

Pada tatap muka itu sebagai hari di mana Heru dan ke-3 temannya diberi amanat oleh Instansi Tradisi Baduy untuk memberi aspriasi dan surat terbuka ke Presiden. Amanat itu langsung diberikan secara administratif oleh Jaro Dangka (Jaro Aja), Jaro Madali

Heru menerangkan dalam peluang itu agendanya ialah penandatanganan surat terbuka oleh teamnya. Pembubuhan cap jempol yang dilaksanakan oleh penopang tradisi Baduy, salah satunya yakni Jaro Dangka (Jaro Aja), Jaro Madali

Surat terbuka itu dikirimkan ke Presiden Joko Widodo

Pada Senin 6 Juli 2020, surat terbuka berkaitan keinginan Instansi Tradisi untuk meniadakan teritori Baduy dari tujuan rekreasi juga dikirimkan ke Presiden, beberapa kementerian dan piranti wilayah daerah Banten. Surat itu dikirimkan berbentuk fisik lewat layanan pengangkutan surat.

Dalam surat itu, mereka minta Jokowi untuk meniadakan teritori tradisi Baduy sebagai tujuan rekreasi dan menukarnya sebagai cagar budaya. Heru memandang menukar daerah tradisi itu sebagai cagar budaya ialah opsi terbaik untuk teritori Baduy.

Menurut dia, nilai eksklusivitas produk yang dibuat cagar alam dan cagar budaya itu bisa menggerakkan putaran ekonomi warga Baduy. Pencemaran lingkungan jadi argumen masayarakat tradisi Baduy untuk tutup teritori mereka jadi tujuan rekreasi.

Hal tersebut dikatakan oleh Jaro Saidi, salah satunya Penopang Tradisi di Baduy. Dia menyebutkan jika banyak pedagang di luar Baduy banyak yang datang ke sejumlah besar jual produk makanan minuman beres-beresan plastik hingga datangkan masalah baru.

”Ini muncul karena begitu jumlahnya pelancong yang tiba, ditambahkan beberapa dari mereka yang tidak menghiraukan dan jaga kelestarian alam. Hingga, banyak aturan dan bimbingan tradisi yang mulai tergerus dan terkikis oleh persinggungan itu,” kata Jaro Saidi.

Saat itu, Heru menjelaskan jika surat terbuka yang diamatkan padanya oleh Instansi Tradisi sudah tiba ke Presiden Joko Widodo, kementerian, dan pemerintahan Kabupaten Lebak. Tetapi, tidak ada tanggapan selanjutnya dari pemerintahan berkenaan surat terbuka itu.

Walau demikian, pemerintahan di tempat akui tidak ketahui hal ada persetujuan masalah keinginan Baduy ingin dihapus dari peta tujuan rekreasi nasional. Kadispar Lebak, Imam Rismahayadin, akui ketahui ada surat terbuka itu lewat kabar berita media.

”Kami (dinas pariwisata) baru mengetahui di sosmed. Ke pemkab Lebak dan propinsi tidak ada (pernyataan). Kami simak di media. Hingga saat ini belum (tahu) berkaitan surat terbuka itu,”